Selasa, 10 November 2009

HIKMAH DAN KEUTAMAAN QURBAN

HIKMAH DAN KEUTAMAAN QURBAN

Qurban berasal dari bahasa Arab QORUBA yang berarti : dekat. Qurban berarti Pendekatan. Maksudnya ibadah qurban ini adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam al-Qur’an, surat al-Kautsar ayat 2 Qurban dikenal dengan istilah NAHR yang artinya sembelihan, maksudnya menyembelih binatang ternak, seperti Domba/kambing, sapi/kerbau dan unta.

Dalam fiqh qurban dikenal dengan istilah UDHIYYAH, yang berasal dari kata Dluha yang berarti waktu ketika matahari sedang naik di pagi hari. Karena menyembelih binatang qurban dimulai ketika matahari naik di pagi hari (waktu Dluha).
"qurban" hukumnya sunnah muakadah (sangat dianjurkan) merupakan salah satu ujian dari Allah, yang dengannya setiap mu'min bisa mengukur hakikat keimanannya, hakikat ketaatannya kepada perintah Allah. Allah kehendaki totalitas dalam ketaatan kita kepada-Nya, dengan penuh keikhlasan, ketenangan, kerelaan dan keyakinan. Karenanya Allah segera menggantinya dengan seekor sembelihan.Seperti yang tersurat dalam kisah dalam Al-Qur'an surat Al-Shafat, ayat : 102-109.

Sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa memiliki kelapangan rizki (keuangan), lalu ia tidak berQurban, maka janganlah ia datang ke tempat shalat kami," (HR.Ahmad).

Qurban mempunyai beberapa keutamaan yakni :

Amalan yang paling dicintai Allah pada hari Raya Idul Adha. “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim)

mendapatkan pahala yang besar. Pahala yang amat besar, yakni diumpamakan seperti banyaknya bulu dari binatang yang disembelih, ini merupakan penggambaran saja tentang betapa besarnya pahala itu, hal ini dinyatakan oleh Rasulullah SAW. "Pada tiap−tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Pengampunan dari Allah. Rasulullah SAW telah bersabda ”Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa−dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah : Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah SWT, Rabb alam semesta. (HR. Abu Daud dan At−Tirmizi)

Keridhaan Allah. Allah SWT berfirman: “Daging−daging unta dan darahnya itu sekali−kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al Hajj: 37)

Hewan qurban sebagai saksi di hari kiamat. “Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban telah terletak disuatu tempat disisi Allah sebelum mengalir ditanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim)

Hikmah Qurban

Setiap ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Di antara hikmah ibadah Qurban, ialah :

mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran: QS Al-Haj, 22:36)

menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak monoteisme (Agama Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya yang emenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).

menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)

berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.

Namun semua itu harus Ikhlas hanya demi Allah semata, bukan hanya ingin dilihat manusia. Islam mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlalah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5). Selamat melaksanakan Ibadah Qurban Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat mengambil keutamaan dan hikmah ibadah qurban.

Senin, 05 Oktober 2009

ISLAM YANG HUMANIS

MENAMPILKAN ISLAM YANG HUMANIS-
Prof. DR. Ahmad Syafii Maarif
Sebenarnya judul artikel ini tidak terlalu tepat, karena Islam yang autentik pasti berwajah humanis, tidak mungkin berpenampilan sangar dan garang. Tetapi, sejak terjadinya tragedi 9/11-2001, pers Barat dengan cara semena-mena telah menyamakan Islam dengan terorisme. Tuduhan-tuduhan lama dimunculkan kembali bahwa Islam itu disiarkan dengan pedang di tangan kanan dan al-Qur’an di tangan kiri. Islam adalah agama yang berdarah-darah, tidak mungkin bersahabat dengan kemanusiaan. Tuduhan semacam ini, sekalipun telah dibantah berdasarkan fakta sejarah oleh banyak penulis, seperti terakhir oleh Karen Armstrong misalnya, pada saat-saat tertentu ternyata kambuh kembali. Islam selama berabad-abad telah menjadi agama tertuduh dengan alasan serba palsu. Sekalipun demikian, agama wahyu ini tetap saja berkembang dan berkembang. Sekarang ke negara mana pun anda mengembara, pasti di sana ada penghuni Muslimnya. Semakin dituduh, semakin bertambah pengikutnya, termasuk di kalangan orang Barat, tidak kurang dari mantan pendeta.Dengan demikian, tidak ada yang mesti dicemaskan bahwa Islam akan kekurangan pengikut yang kini sudah berjumlah 1,3 milyar, sebuah angka yang sungguh spektakuler. Tetapi, yang memprihatinkan adalah kenyataan kualitas umat ini masih terlalu jauh di bawah standar bila diukur dengan parameter al-Qur’an yang menggambarkan mereka sebagai umat terbaik dan umat pertengahan yang bertugas menjadi wasit peradaban. Posisi sekarang, umat Islam malah diwasiti pihak lain, karena kita terlalu lama hidup dalam sebuah Islam yang lain, bukan Islam al-Qur’an, bukan pula Islam kenabian, tetapi karena ego sejarah dan latar belakang, kita tidak mau mengakuinya. Kita kehilangan kejujuran dalam bercermin, mengaca diri dengan apa adanya. Sekiranya nabi Muhammad saw bangkit untuk menyaksikan keadaan kita, alangkah parahnya umat ini sekarang, tentu beliau akan menghardik kita semua dengan suara parau. Melalui imajinasi saya, kira-kira bunyinya: “Wahai umatku, untuk berapa lama lagi kalian semua hidup dan bertualang dalam suasana Islam yang lain, bukan Islam-ku, bukan pula Islam yang diajarkan al-Qur’an sebagai rahmat bagi alam semesta.”Kemudian karena gagal mengawal gerak roda peradaban selama ratusan tahun, kita kehilangan rasa percaya diri, sesuatu yang mutlak sebagai syarat bagi wasit peradaban. Orang yang tidak punya kepercayaan diri, tingkah lakunya pasti aneh-aneh dan dibuat-buat, sama sekali tidak sejati. Wajah garang yang kadang-kadang dipertunjukkan oleh segelintir mereka yang mengaku beragama Islam adalah pertanda kepribadian yang pecah. Kepercayaan kepada diri telah lama menguap oleh berbagai sebab di antaranya ketertinggalan dalam ranah ilmu dan teknologi. Dan bahkan dalam moralitas, kita bukan umat terbaik. Umat Islam telah lama menjadi manusia konsumen hasil peradaban pihak lain. Kita adalah umat yang malas berfikir serius. Akibatnya, umat lain semakin jauh melampaui posisi kita, dan kita pun marah. Sebuah kemarahan yang tidak punya dasar dan alasan yang kuat, karena kelemahan dan kebangkrutan berfikir sepenuhnya ada pada diri kita.Oleh sebab itu, jika kita memang beriman secara tulus dan yakin bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, nasehat saya mohon direnungkan secara jujur dan cerdas hardikan nabi kepada kita semua dalam format dialog imajinasi di atas. Setelah memahami dengan benar keprihatinan nabi akhir zaman itu, mari kita tengok diri kita secara telanjang, hadapkan telunjuk kepada wajah kita yang bopeng. Setelah itu, susun langkah strategis untuk memulai sesuatu yang segar dengan al-Qur’an dibantu sunnah yang sahih sebagai satu-satunya sumber pembimbing kita dalam beramal, demi mewujudkan wajah Islam yang ramah, adil, dan humanis. Tentu kesediaan melihat secara jujur kelampauan kita perlu pula dilakukan secara berani. Masa lampau umat ini ada yang manis, di sisi banyak pula yang pahit dan getir.Dengan cara ini, saya percaya bahwa martabat umat ini akan terangkat ke posisi yang terhormat dan berwibawa pada semua ranah: lokal, nasional, regional, dan global. Melalui cara ini pula, wajah sangar, teror, dan yang sejenis itu, akan berangsur sirna, dikikis oleh kesadaran yang mendalam dan tulus, sehingga Islam dengan tampilan anggun akan semakin memikat pihak lain untuk mengenal lebih dekat hakekat agama wahyu yang diturunkan untuk kepentingan akhir zaman. Di sinilah tantangan terbesar yang terbentang di depan umat yang jumlahnya sudah mencapai angka 1,3 milyar ini. Jangankan dengan wajah ramah dan humanis, dengan tampilan yang kusut-masai saja, Islam toh tetap diminati manusia, karena mereka tidak mau ditipu oleh orang-orang yang tidak percaya diri. Islam ini ada agama yang sungguh dahsyat, bung!l

ZAkat MAL

A.PENGERTIAN MAL
Mal atau harta secara bahasa mengandung pengertian segala sesuatu yang dinginkan sekali oleh manusia untuk dimiliki, menyimpan dan memanfaatkan.

B. SYARAT KEKAYAAN YANG WAJIB DIZAKATI
1. Harta tersebut dalam pemanfaatan dan penggunaannya berada dalam kontrol dan kekuasaan pemiliknya secara penuh dan didapatkan dengan cara yang dibenarkan oleh syariat Islam.
2. Harta tersebut dapat berkembang atau bertambah.
3. Harta tersebut telah mencapai batas tertentu (mencapai nisab) sesuai dengan ketentuan hukum Islam.
4. Harta tersebut telah dimiliki selama setahun (mencapai haul). Syarat ini tidaklah mutlak, sebab ada harta-harta yang wajib untuk dizakati sebelum dimiliki selama setahun.

C. HARTA YANG WAJIB DIZAKATIBeberapa macam harta yang wajib dizakati:1. Emas dan perak (QS At Taubah:34)2. Tanaman dan buah-buahan (QS Al An’am: 141)3. Segala macam usaha yang baik dan halal (QS Al Baqarah; 267)4. Apa yang dikeluarkan dari dalam perut bumi (hasil tambang)(QS Al Baqarah; 267)5. Kekayaan yang dinyatakan secara umum. (QS At Taubah: 103)

D. ZAKAT EMAS DAN PERAK
Zakat emas dan perakNishab emas adalah 20 Dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 Dinar atau perak 200 Dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %.barang yang keluar dari tanah yang bernilai ekonomis wajib dikenakan zakat. Contoh:Pak Marto seorang pengusaha tambang batu permata. Dari hasil usaha ini tiap bulan ia bisa mengantongi uang yang cukup untuk keluarganya. Ia tiap bulan bisa menjual batu permata atau menyisihkan keuntungan Rp 800.000,00. Kewajiban zakat yang harus dibayar pak Marto adalah selama setahun bekerja menambang batu permata 2,5 % x Rp 9.600.000,00 = Rp 240.000,00

E. ZAKAT PERNIAGAAN
1. Dasar Hukum“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik….(QS Al Baqarah: 267)“Rasulullah SAW memerintahkan kami supaya mengeluarkan shadaqah dari segala yang kami jual” (HR Abu Dawud)Zakat PerniagaanHarta perniagaan, nishabnya adalah 20 Dinar (setara dengan 85 gram emas murni). Artinya jika suatu badan usaha pada akhir tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerja dan untung) lebih besar atau setara dengan 85 gram emas (jika pergram Rp 90.000,- =Rp 7.650.000,-), maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %Contoh:Pak H. Rameli adalah seorang pengusaha cor logam di desa Batur. Ceper. Klaten. Pada tutup buku per Januari 2003 dengan keadaan sebagai berikut: 1. Produk jadi yang belum terjual seluruhnya memiliki nilai nominal2. Uang Tunai3. Piutang Rp 10.000.000.-Rp 15.000.000.-Rp 2.000.000.-Total Rp 27.600.000Utang yang harus dilunasi Rp 7.000.000Saldo Rp 20.000.000Besar zakat = 2,5 % x Rp 20.000.000,00 =Rp 500.000,00Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah dan bangunan atau lemari, etalase pada toko, dan lain lain, tidak termasuk harta yang wajib dizakati sebab termasuk dalam kategori barang tetap (tidak berkembang).

Selasa, 29 September 2009

Dadang gulo pendidik

Dadang gulo pendidik

Lamun yen Siro Anggeguru kaki
Amiliho manungso kang nyata
Ingkang becik martabate
Sarta kang wruh ing hukum
Kang ngibadah lan kang ngirangi
Sokur oleh wong kang topo
Ingkang wis tumungkul
Tan mikir pawehing liyan
Iku pantes yen siro guronono kaki
Sartane kawruhono

BELAJAR DARI LEBAH

Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)

Manusia adalah makhluk yang dikarunia akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran inilah manusia diharapkan mampu belajar dari alam ( ayat-ayat Kauniyah) sekitar kita. Kesemuanya itu guna menambah rasa keimanan kepa Allah SWT. Tidak malah mengekploitasi alam yang hanya untuk memenuhi nafsunya. Dengan kita bisa belajar dati lingkungan kita akan bisa banyak mengampil pelajaran dan manfaat darinya. Sehingga kita diharapkan bermanfaaat juga bagi sesama. Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”
Nah, pada kesempatan ini kita akan coba belajar dari sifat-sifat yang baik yaitu Lebah.Allah berfirmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Adapun sifat lebah yang bisa kita ambil pelajaran adalah :
1. Hinggap di tempat yang bersih dan makan hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
2. Mengeluarkan yang bersih.
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.
3. Tidak pernah merusak
Lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.
4. Bekerja keras
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.
5.Bekerja secara jama’i
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
6. Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam.

Selasa, 08 September 2009

MUDAHNYA BERISLAM

MUDAHNYA BERISLAM
Oleh: Muhsin Hariyanto

Sesungguhnya, tradisi Islam dan tata cara kehidupannya ditegakkan berdasarkan fitrah dan berorientasi kepada kemudahan, menjauhi keberatan dan kesulitan serta jauh dari sikap berlebihan. Di antara bukti dari kemudahan dan kesederhanaan itu adalah dimudahkannya segala urusan, disedikitkannya beban kewajiban, dan diringankannya dari ketidakteraturan kerja, waktu dan harta, yang tanpa adanya itu semua akan merugikan masyarakat.(Yusuf al-Qaradhawi, Sistem Masyarakat Islam dalam al-Qur’an dan Sunnah, Solo: Citra Islami Press, Cetakan Pertama, Januari 1997)Dalam wacana Fiqih (Islam) kita kenal istilah rukhshah (keringanan). Keringanan (rukhshah) itu adalah sebuah pilihan ketika ada situasi dan kondisi yang memberatkan, yang memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk memilih dengan subjektivitas masing-masing untuk memberlakukannya atau tidak.Jabir bin Abdullah (salah seorang sahabat Nabi saw) meriwayatkan, bahwa dia melihat Nabi saw sedang dalam suatu perjalanan, kemudian beliau menyaksikan orang ramai mengerumuni seorang lelaki yang dipayungi, kemudian beliau bersabda: “Ada apa ini?” Mereka pun menjawab: “Dia sedang berpuasa.” Beliau kemudian bersabda, “Tidak baik berpuasa dalam perjalanan.” Yakni di dalam perjalanan yang amat menyulitkan ini. (HR. al-Bukhari- Muslim)Khalifah Umar bin Abd al-Aziz di saat mendapat pertanyaan mengenai puasa dan berbuka di dalam perjalanan, yang pada saat itu diperdebatkan oleh para ahli fiqih, dia berkomentar: “Yang paling baik ialah yang paling mudah di antara keduanya.”Nabi saw pun menganjurkan umatnya untuk bersegera melakukan buka puasa dan mengakhirkan sahur, dengan tujuan untuk memberi kemudahan kepada orang yang melaksanakan puasa.Kita juga banyak menemukan fuqaha yang memutuskan hukum yang paling mudah untuk dilakukan oleh manusia terhadap sebagian hukum yang memiliki berbagai pandangan; khususnya yang berkaitan dengan masalah muamalah. Ada ungkapan yang sangat terkenal dari mereka: “al-masyaqqatu tajlibut taisîr (di mana pun dan kapan pun orang menemui kesulitan, di tempat dan saat itu pula orang mendapatkan kemudahan) “Memang, kadangkala seorang ulama memberikan fatwa dengan sesuatu yang lebih hati-hati dan terkesan memberatkan kepada sebagian orang yang lebih siap untuk menjalankan praktik ke-Islaman yang berkualitas. Mereka yang sudah siap untuk tidak sekadar menjalankan sejumlah kewajiban-formal (ke-Islaman) dan meninggalkan sesuatu yang secara tegas diharamkan, sebagai orang-orang wara’ yang sudah berkemampuan untuk menjauhkan diri mereka dari segala bentuk kemaksiatan. Jangankan yang haram, yang halal pun akan dijauhi bila berpotensi untuk mendatangkan kemaksiatan. Jangankan yang wajib (dilaksanakan), yang mubah (sebenarnya tidak diwajibkan dan disunnahkan) pun dilakukan untuk mendapatkan kebaikan. Tetapi, bagi orang-orang awam, yang biasanya difatwakan oleh para ulama, adalah pendapat yang paling mudah dan terkesan tidak membebani. Dan, kata para sosiolog Muslim, ternyata kelompok awam di kalangan umat Islam masih jauh lebih banyak daripada orang-orang khawwas (elit sosial Muslim yang sudah siap ber-Islam lebih matang), yang telah siap untuk ber-Islam lebih daripada sekadar mengejar batas minimal.Saat ini, ditengarai oleh banyak pengamat sosial, umat kita (baca: mayoritas umat Islam) masih lebih banyak memerlukan bimbingan dan arahan keberagamaan yang terkesan mudah dan menggembirakan daripada hal-hal yang terkesan sulit dan menyusahkan, lebih senang menerima berita ‘surga’ daripada berita ‘neraka’. Apalagi, bagi para muallaf (orang-orang yang baru saja berislam), atau untuk orang-orang yang baru saja bertobat dari sejumlah kemaksiatan. Kondisinya mirip dengan ketika Nabi saw memulai misi dakwahnya di Makkah (pada periode pra-hijrah), dan langkah awal beliau ketika masuk ke Medinah (periode awal hijrah).Ketika mengajarkan Islam kepada orang-orang yang baru memasuki ranah keber-Islaman, beliau tidak memperbanyak kewajiban atas mereka, serta tidak terkesan memberikan beban perintah dan larangan. Jika ada orang yang bertanya kepadanya mengenai Islam, maka beliau merasa cukup untuk memberikan definisi yang berkaitan dengan kewajiban primer, dan tidak mengemukakan yang sekunder. Bahkan beliau pernah mengecam orang yang memberatkan kepada manusia, tidak memperhatikan kondisi mereka yang berbeda-beda; sebagaimana ketika menegur sebagian sahabat yang menjadi imam shalat jamaah orang ramai. Mereka memanjangkan bacaan di dalam shalat, sehingga sebagian makmum mengadukan hal itu kepada beliau. Nabi saw berpesan kepada Mu’adz bin Jabal (salah seorang sahabat beliau) bahwa beliau sangat tidak suka bila Mu’adz memanjangkan bacaan itu, sambil berkata kepadanya (sebanyak tiga kali berturut-turut): “Apakah engkau ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz? Apakah engkau ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz? Apakah engkau ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz?” (HR. al-Bukhari).Abu Mas’ud al-Anshari (sahabat Nabi saw yang lain), meriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: ‘Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya aku selalu memperlambat untuk melakukan shalat Subuh dengan berjamaah karena Fulan (Mr. X), yang selalu memanjangkan bacaannya untuk kami. Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw memberikan nasihat dengan sangat marah kecuali pada hari itu. Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya, ada di antara kamu yang membuat orang-orang lain susah. Siapa pun di antara kamu yang menjadi imam orang banyak, maka hendaklah dia meringankan bacaannya, karena di antara mereka ada orang yang lemah, tua, dan mempunyai kepentingan yang hendak dikerjakan.” (HR. al-Bukhari-Muslim)Jadi, Nabi saw mengecam terhadap hal-hal yang memberatkan apabila hal itu dianggap mengganggu kepentingan orang banyak, dan bukan sekadar untuk kepentingan pribadi (satu orang saja).Begitulah yang kita perhatikan dalam tindakan beliau ketika beliau mengetahui para sahabatnya yang mengambil langkah beribadah yang tidak selayaknya dilakukan bersama orang banyak, walaupun sebenarnya niat mereka “baik”. Tetapi, yang baik untuk dirinya bukan berarti baik untuk semua orang.Di sinilah seorang diajar untuk berempati dan bersikap toleran. Bergumul dengan realitas sosial dengan konsep “teologi ko-eksistensi”. Di sini ada aku, di sana ada kamu dan mereka. “Kita” bisa hidup bersama-sama tanpa saling mengusik dan terusik, dengan tetap memiliki komitmen untuk membiasakan yang benar, dan bukan sekadar membenarkan yang biasa.Ketika ada yang mudah, kenapa menerapkan yang sulit? Ketika yang sulit bisa dipermudah, kenapa kita enggan? Jadikan Islam sebagai rahmat bagi semuanya, tanpa mereduksi prinsip-prinsipnya.Itulah antara lain, pesan moral Islam yang sudah semestinya kita implementasikan dalam kehidupan kita. Islam untuk semuanya!l______________________________